Hah…..? Yang bener, bagaimana kamu bisa bilang begitu?!
Itu adalah reaksi dari beberapa teman, waktu aku secara tiba-tiba mengatakan itu saat sedang menonton televisi yang kebetulan ada cerita nabi Musa dan Firaun.
Ya, itu benar, kataku. Bagaimana bisa?
Itu akan menjadi benar, kalau kita mengembalikan semua hal kepada dasar keyakinan kita bahwa alam raya beserta isinya adalah ciptaan Tuhan. Segala kejadian-kejadian yang terjadi di alam semesta adalah atas kehendak serta atas sepengetahuan Tuhan.
Fir’aun juga adalah makhluk ciptaan Tuhan, yang kehadirannya di bumi ini pun atas kuasa dan kehendak Tuhan. Dan apapun yang terjadi nantinya dengan keberadaan Firaun di muka bumi ini, pasti Tuhan tahu. Menurut kamu, Tuhan tidak tahu soal itu?
Tuhan menghendaki agar Firaun beriman kepadaNya dan kepada rasulNya. Makanya Dia mengutus Nabi Musa untuk mengajak Firaun dan pengikutnya beriman. Bahkan dengan menunjukkan mukjizat-mukjizat untuk membuktikan ketuhanan yang diajarkan Musa. Artinya Tuhan menginginkan Firaun untuk tidak kafir.
Betul. Bahwa Tuhan meminta Firaun untuk beriman dengan mengutus Musa yang membawa bukti-bukti dan perintah-perintahNya, itu benar. Tapi jika kita, seperti aku sebutkan tadi, kembalikan kepada keyakinan bahwa semua yang terjadi di alam raya ini atas kehendak Tuhan, maka kekafiran Firaun pun atas kehendakNya. Dalam pengertian bahwa, kita ingat firman Tuhan, “Jika aku menghendaki, niscaya aku buat seluruh manusia di muka bumi ini beriman kepadaku”.
Jadi, kalau Tuhan menghendaki, Dia bisa saja menjadikan Firaun itu sebagai orang yang beriman. Tapi nyatanya Tuhan (dengan kemaha-mampuannya) tidak menggunakan kemaha-kehendakNya untuk menjadikan Firaun sebagai orang beriman. Padahal kalau Dia mau, itu bisa saja bahkan teramat sangat bisa Dia lakukan. Artinya, Tuhan “tidak menghendaki” Firaun menjadi orang beriman.
Ketika ada orang butuh sesuatu dari kamu, kamu bisa saja memberikan sesuatu itu kepadanya, tetapi kamu tidak memberikannya, apa itu artinya? Artinya kamu tidak berkehendak memberikan. Tidak berkehendak untuk memberikan sama jadinya dengan berkehendak untuk tidak memberikan. Mungkin alasan dan tujuannya saja yang berbeda.
Lalu mengapa Tuhan tidak menjadikan saja Firaun itu sebagai orang beriman, sehingga kaum Nabi Musa (orang beriman) tidak perlu bersusah-susah menyeberangi Laut Merah dan Firaun beserta tentaranyapun tidak perlu harus tewas di dalamnya?
Itu adalah bagian dari rahasia Tuhan yang barangkali memiliki alasan-alasan dan tujuan-tujuan tertentu diluar yang kita tahu atau dapat fahami. Sebab, ketika Tuhan memutuskan untuk menciptakan satu makhluk baru yang bernama manusia pun, para malaikat sempat protes. Mengapa Tuhan menciptakan makhluk yang nantinya hanya akan membuat kerusakan di muka bumi? Tapi dengan tegas Tuhan menjawab, “Aku lebih tahu apa-apa yang kamu tidak ketahui”.
Wallahu A’lam.
tiap saya baca lagi ayat-ayat di Al-Qur’an tentang dialog Firaun dengan Musa AS. pertanyaan muncul dibenak saya, kenapa segala perkataan Musa AS tidak dibantah Firaun mentah-mentah, atau tanpa basa-basi Firaun langsung membunuh Musa AS saja? bukankah begitu yang seharusnya dilakukan orang jahat? tapi penjelasan/perkataan Musa selalu “ditangkap esensinya” oleh Firaun, kemudian diserahkan kembali kebada rakyatnya, misal: “jadi siapakah tuhanmu itu wahai musa, terangkanlah pada kami (rakyat)”. yang saya tangkap dari pergulatan mereka itu seperti sedang bermain sandiwara. seperti sama-sama utusan namun Firaun dengan peran “jahat” antagonis, dan Musa AS dengan peran “baik” protagonis. penontonnya adalah rakyat luas dan sejarah. bagi saya mereka seperti bapak dan anak yang sedang merencanakan suatu misi baik-baik yang sama. yaitu mengembalikan rakyat luas kepada Allah SWT. walahualam.