Aneh adalah kata yang kita gunakan untuk menyatakan sesuatu atau seseorang yang memiliki bentuk, karakteristik, sifat-sifat diluar yang kita anggap sebagai suatu kewajaran. Jika ada ayam yang bertanduk di kepalanya, maka ayam tersebut kita anggap sebagai ayam aneh karena sewajarnya ayam tidak memiliki tanduk di kepalanya. Jika ada orang yang senang memakai sepatu di tangannya, pastilah orang itu adalah orang aneh karena sewajarnya sepatu dipasang pada kaki.
Aneh juga bisa diterapkan untuk menunjukkan keadaan-keadaan, kelakuan-kelakuan, perbuatan-perbuatan, sifat-sifat, dsb yang tidak sesuai atau tidak biasanya dari yang umum di dalam suatu masyarakat atau lingkungan tertentu. Di Indonesia pada umumnya, jika anda tidak doyan makan nasi, anda akan dianggap aneh. Di tempat saya, jika ada anak laki-laki remaja yang belum disunat, pasti akan dianggap “aneh” oleh teman-teman yang lain. Demikian juga kalau ada anak perempuan yang tidak suka memakai rok, sudah pasti dianggap aneh.
Tapi, belakangan ini, dalam perkembangan kehidupan kita, muncullah banyak hal yang aneh-aneh. Banyak kejadian-kejadian aneh. Banyak kelakuan-kelakuan aneh. Banyak sifat-sifat aneh. Banyak perbuatan-perbuatan yang kita anggap aneh. Dan…..karena sudah demikian sering terjadi serta sedemikian banyak kejadiannya, maka keanehan-keanehan tersebut rasanya sudah tidak aneh lagi. Sebagai contoh, (ini terutama di kota-kota) perempuan yang tidak suka pakai rok atau kebaya, sekarang ini bukan lagi hal yang dianggap aneh. Demikian juga laki-laki yang justeru senang memakai rok atau kebaya, juga bukan lagai barang aneh. Polisi yang enggan mengeluarkan surat tilang terhadap pelanggar rambu lalulintas dan lebih memilih jalan “damai”, bukan lagi hal aneh. Jaksa yang dengan “jujur” memasang “harga” untuk suatu kasus hukum, maling ayam yang dihukum enam bulan penjara dan koruptor kelas kakap yang divonis bebas, ustadz-ustadz yang muncul di infotainment layaknya artis sinetron, para dukun dan “orang-orang pintar” yang lebih laris ketimbang dokter,…..semuanya sudah bukan lagi sesuatu yang aneh, setidaknya di mata sebagian dari kita.
Saya pernah berhenti di perempatan jalan ketika lampu lalulintas berwarna merah. Orang-orang di belakang saya ramai membunyikan klakson, bahkan ada yang berteriak-teriak menyuruh saya untuk terus maju. Saya merasa aneh. Lampu merah,..kok saya disuruh maju. Orang-orang yang kemudian menyalip saya menatap heran kepada saya. Aneh! Ditengah orang-orang yang gemar melakukan hal yang aneh, orang-orang yang berusaha untuk tidak ikut-ikutan aneh (seperti saya) malah dianggap aneh. Sungguh aneh!
Recent Comments