ANEH

5 11 2007

Ditengah orang-orang yang gemar melakukan hal yang aneh, orang-orang yang berusaha untuk tidak ikut-ikutan aneh (seperti saya) malah dianggap aneh. Sungguh aneh!

Selengkapnya





Lebaran Telah Tiba

8 10 2007

Nggak terasa bulan Ramadhan telah memasuki hari-hari terakhir. Lusa Ramadhan akan berakhir dan masuk ke bulan berikutnya: bulan Syawal, yang hari pertamanya dikenal dengan istilah Lebaran.

Menyongsong lebaran ini, seperti tahun-tahun sebelumnya, kesibukan mulai terlihat di mana-mana. Orang-orang mulai membersihkan dan merapikan rumah, bahkan banyak yang mempercantiknya dengan cat baru atau malah menambahkan dekorasi-dekorasi tertentu. Pasar-pasar, swalayan, pusat-pusat perbelanjaan mulai dipadati orang-orang yang berbelanja pakaian baru atau kebutuhan-kebutuhan untuk hari lebaran. Makanan-makanan khas lebaran pun mulai banyak diserbu. Sebagian orang malah membuat sendiri panganan-panganan yang sengaja disiapkan untuk disajikan pada hari lebaran. Pokoknya semua dipersiapkan dengan meriah, seperti persiapan untuk mengadakan pesta besar. Pesta besar. Ya,…pesta besar.

Lebaran, memang adalah sebuah pesta besar. Sebuah pesta yang diperuntukkan untuk menyambut mereka-mereka yang telah sukses “menaklukkan” tantangan-tantangan besar selama Ramadhan. Bahkan dikatakan itulah perang terbesar dari segala perang: mengalahkan hawa nafsu.

Sebuah pesta yang bahkan dirayakan oleh mereka-mereka yang sebenarnya tidak sama sekali menjalankan apa yang diwajibkan ataupun disunahkan selama Ramadhan. Tidak peduli. Pokoknya ini pesta besar bagi semua. Semua kudu ikut meramaikan. Malahan, dibandingkan persiapan menyambut Ramadhan, pesta menyambut Lebaran jauh lebih dipersiapkan. Bahkan bagi banyak orang, ketika bulan Ramadhan tiba, yang terpikirkan oleh mereka adalah Lebarannya. “Sebentar lagi lebaran, kudu siap-siap nih!“.

Itulah realita yang ada di masyarakat kita. Baju baru, makanan yang banyak, pulang kampung, jalan-jalan…..yang tanpa itu rasanya Lebaran nggak lengkap. Itu sudah jadi tradisi. Selama itu tidak berlebih-lebihan, tidak memaksakan diri, dan yang paling penting tidak melupakan makna sebenarnya dari lebaran itu sendiri,…biar saja lah!

Selamat Lebaran. Selamat Iedul Fitri 1428H. Mohon maaf lahir bathin!





Nikmatnya menderita

4 10 2007

Ini bulan puasa, sudah memasuki minggu terakhir. Alhamdulillah….masih sanggup mengemban tugas istimewa ini (ini satu-satunya tugas yang penilaiannya langsung oleh Tuhan dan ganjarannya pun langsung diberikan oleh Tuhan).

Yang namanya orang puasa, pastilah merasakan lapar dan haus. Itu wajar! Lha wong nggak makan dan nggak minum satu harian kok. Tapi disitulah justeru nikmatnya berpuasa.
Bayangkan, ditengah hari yang terik saat matahari terasa lebih panas dari biasanya: perut mulai bergelinjang, tenggorokan makin tercekat…..kebayang kan nikmatnya es cendol … atau hidangan istimewa di rumah makan…..glegh…!!

Nggak, nggak usah ngebayangin. Di depan mata cing! Saat melintas di tengah keramaian, ada saja orang yang dengan nikmatnya menyantap hidangan istimewa, atau minuman yang terlihat lebih menyegarkan dari yang biasa kita minum. Huh….hah…..lengkap sudah penderitaan. Pada saat kondisi mulai melemah, pasti pertahanan diri pun ikut melemah. Godaan yang datang, baik dari dalam maupun dari luar diri kita seakan makin kuat menghantam.

Tergoda? Memang menggoda. Tapi tergoda? Hh…nanti dulu! Perlu lebih banyak dari sekedar itu untuk membuat aku tergoda. Hmm……

Seperti yang aku bilang tadi, ini adalah tugas istimewa. Karena ini adalah tugas istimewa, pastilah hanya akan diberikan kepada orang-orang yang istimewa pula. Dan memang, hanya orang-orang yang istimewalah yang akan mampu menyelesaikan tugas ini dengan baik dan tuntas. Jadi, betapapun menderitanya, jalani saja dengan tabah dan ikhlas. Malah kalau bisa nikmati saja semua itu. Itu belum seberapa. Bayangkanlah orang-orang di tempat lain, yang merasakan penderitaan yang lebih hebat dari itu. Begitu kira-kira aku menguatkan diri.

Pengalamanku mengajarkan, jika kita mampu mengatasi godaan-godaan di awal-awal kita puasa, kita bertahan untuk terus hingga finish, maka hari-hari berikutnya akan menjadi semakin ringan dan semakin ringan. Sebaliknya, jika kita turuti godaan nafsu kita, maka hari-hari berikutnya kita pun akan mudah pula tergoda. Catet!.. Lagian, es cendol itu akan terasa lebih nikmat jika kita minum saat berbuka puasa (maghrib) ketimbang di siang hari saat kita “mangkir” puasa.

Nanti, begitu azan maghrib berkumandang, kita akan berkata, “Alhamdulillah…..nikmat sekali penderitaan hari ini!”