Apalah Artinya Satu?

24 12 2007

Saya ingat ketika tahun 2001 terlibat dalam suatu kegiatan di Kabupaten Deli Serdang, di Kecamatan Percut Sei Tuan, pernah berbicang-bincang dengan beberapa teman di sana. Ketika itu saya mengomentari gersangnya lingkungan saat itu. Saya katakan seandainya bisa kita menanam satu pohon saja untuk setiap rumah (KK), mungkin di sini akan terasa lebih sejuk.

Mendengar itu, salah seorang warga yang ada di sana langsung berkomentar, “satu pohon apa artinya?”

Maka Syamsir (kawan saya), memberikan pernyataan yang mendukung perkataan saya. “Ya, kalau cuma satu. Tapi tadi kan dibilang, kalau setiap rumah menanam satu pohon. Cobalah hitung, ada berapa ratus rumah di sekitar sini saja, belum di seberang sana, di kecamatan sana. Ada ribuan rumah, berarti ada ribuan pohon. Pasti berpengaruh”.

Ya, kita selalu meremehkan hal-hal kecil, masalah-masalah kecil dan lebih berfokus kepada hal-hal besar atau masalah-masalah besar.

Ada orang yang membuang sampah ke laut, sungai atau saluran air. Dengan enteng orang itu akan bilang, “cuma satu bungkus kecil saja, nggak akan bikin mampet”. Jika di hutan lindung ada satu orang yang menebang satu pohon, mungkin orang itu berfikir, “yang aku tebang cuma satu batang, di sini atau ratusan ribu batang pohon. Apa pengaruhnya?” Orang yang melakukan pemborosan pemakaian listrik, mungkin berfikir “Ah, 5 watt doang, nggak apa-apa”.

Itulah, ungkapan kita “apalah artinya satu?” seringkali menjadi alasan untuk membenarkan kekurangan, kecurangan, keburukan, pelanggaran, bahkan untuk menunda atau malah membatalkan suatu kebaikan.

Anggaplah angka 1 (satu) adalah variabel tetap dari suatu persamaan y=1 x p x a; dimana p adalah jumlah pelaku dan a mewakili suatu bilangan tertentu dalam satuan tertentu, yang perkalian semuanya menghasilkan bilangan y dalam satuan tertentu. Jadi misalnya 1 orang penduduk membuang 1 kg sampah ke sungai yang mengalir di Jakarta setiap hari dan itu dilakukan oleh 1 juta penduduk tiap harinya. Bayangkan berapa ton sampah yang masuk ke sungai-sungai di Jakarta dalam satu hari. Kalikan itu 30 hari dalam sebulan, atau 360 hari dalam setahun. Berapa banyak? 360.000 ton sampah/tahun!!! Seandainya sampah-sampah itu tidak pernah diangkat, mungkin kita tidak melihat air di sungai-sungai tersebut.

Kalau dalam satu provinsi satu orang menebang satu batang pohon saja dalam satu hari dan itu dilakukan oleh seribu orang. Berapa batang pohon yang ditebang dalam satu tahun dalam 33 provinsi? 11.880.000 pohon!!! Katakanlah setiap 36m2 area ada 9 pohon (atau 4m2 untuk satu pohon), berarti dalam setahun kita telah menebang pohon di areal seluas 4.720ha. Bayangkan kalau satu pengusaha hutan yang menebang puluhan, ratusan, bahkan mungkin ribuan hektar tiap bulannya; berapa banyak pengusaha hutan kita dan berapa banyak hutan yang rusak? Tanya Dephut!

Kita bisa menghitung-hitung jumlah hasil kali dari hal-hal lain yang semula berasal dari angka satu. Kita akan kaget mendapati betapa luar biasa banyaknya itu.

Inti dari ini adalah bahwa kita semestinya tidak meremehkan hal-hal yang kelihatannya kecil dan dapat diabaikan. Karena sesungguhnya hal-hal kecil bersama-sama dapat membentuk sesuatu yang sangat besar yang mungkin tidak kita perhitungkan sebelumnya. Pepatah-pepatah kita banyak yang mengungkapkan hal itu, contohnya adalah “sedikit-sedikit, lama-lama menjadi bukit”. Atau ingatlah peringatan yang mengatakan, “orang seringkali tidak jatuh karena menabrak batu besar, tapi karena tergelincir oleh oleh kerikil kecil”.