Untuk Adik-adikku (Ketimpangan itu Nyata)

10 01 2008

Adikku

Janganlah kamu merasa iri

Jika rumah kontrakan yang kamu bayar dengan uang yang kamu kumpulkan dari gaji bulanan kamu, tidaklah cukup kalau digunakan sebagai garasi untuk menampung kendaraan pribadi mereka.

Dan kamu, adikku

Janganlah kamu merasa marah

Jika kamu keseruduk bajaj dan kamu harus mengantri administrasi serta dokter yang hanya memberimu obatmerah dan sekedar kain perban, sementara jika lengan mereka bentol digigit nyamuk saja para kru rumah sakit dengan sigap melayani tanpa basa-basi.

Janganlah kamu merasa sedih

Jika bapak mereka yang hanya dengan mengangguk saja mampu membelikan mobil baru buat mereka, padahal untuk mengganti sepatu sekolah kamu yang rusak saja bapak kita harus sering-sering kerja lembur.

Janganlah kamu berkecil hati

Jika SPP bulan ini belum bisa dibayarkan lantaran kita harus mengutamakan membayar biaya berobat ibu kita yang mulai sakit-sakitan. Padahal uang jajan mereka satu hari saja cukup untuk biaya sekolahmu satu tahun.

Adik-adikku,

Ketimpangan itu sangatlah nyata. Begitu nyatanya hingga kita kadang mempertanyakan takdir kita. Tapi janganlah sampai itu menjauhkan kita dariNya.

Adik-adikku,

Janganlah kamu merasa rendah diri
Karena posisi kita sama di mata ilahi.





Apalah Artinya Satu?

24 12 2007

Saya ingat ketika tahun 2001 terlibat dalam suatu kegiatan di Kabupaten Deli Serdang, di Kecamatan Percut Sei Tuan, pernah berbicang-bincang dengan beberapa teman di sana. Ketika itu saya mengomentari gersangnya lingkungan saat itu. Saya katakan seandainya bisa kita menanam satu pohon saja untuk setiap rumah (KK), mungkin di sini akan terasa lebih sejuk.

Mendengar itu, salah seorang warga yang ada di sana langsung berkomentar, “satu pohon apa artinya?”

Maka Syamsir (kawan saya), memberikan pernyataan yang mendukung perkataan saya. “Ya, kalau cuma satu. Tapi tadi kan dibilang, kalau setiap rumah menanam satu pohon. Cobalah hitung, ada berapa ratus rumah di sekitar sini saja, belum di seberang sana, di kecamatan sana. Ada ribuan rumah, berarti ada ribuan pohon. Pasti berpengaruh”.

Ya, kita selalu meremehkan hal-hal kecil, masalah-masalah kecil dan lebih berfokus kepada hal-hal besar atau masalah-masalah besar.

Ada orang yang membuang sampah ke laut, sungai atau saluran air. Dengan enteng orang itu akan bilang, “cuma satu bungkus kecil saja, nggak akan bikin mampet”. Jika di hutan lindung ada satu orang yang menebang satu pohon, mungkin orang itu berfikir, “yang aku tebang cuma satu batang, di sini atau ratusan ribu batang pohon. Apa pengaruhnya?” Orang yang melakukan pemborosan pemakaian listrik, mungkin berfikir “Ah, 5 watt doang, nggak apa-apa”.

Itulah, ungkapan kita “apalah artinya satu?” seringkali menjadi alasan untuk membenarkan kekurangan, kecurangan, keburukan, pelanggaran, bahkan untuk menunda atau malah membatalkan suatu kebaikan.

Anggaplah angka 1 (satu) adalah variabel tetap dari suatu persamaan y=1 x p x a; dimana p adalah jumlah pelaku dan a mewakili suatu bilangan tertentu dalam satuan tertentu, yang perkalian semuanya menghasilkan bilangan y dalam satuan tertentu. Jadi misalnya 1 orang penduduk membuang 1 kg sampah ke sungai yang mengalir di Jakarta setiap hari dan itu dilakukan oleh 1 juta penduduk tiap harinya. Bayangkan berapa ton sampah yang masuk ke sungai-sungai di Jakarta dalam satu hari. Kalikan itu 30 hari dalam sebulan, atau 360 hari dalam setahun. Berapa banyak? 360.000 ton sampah/tahun!!! Seandainya sampah-sampah itu tidak pernah diangkat, mungkin kita tidak melihat air di sungai-sungai tersebut.

Kalau dalam satu provinsi satu orang menebang satu batang pohon saja dalam satu hari dan itu dilakukan oleh seribu orang. Berapa batang pohon yang ditebang dalam satu tahun dalam 33 provinsi? 11.880.000 pohon!!! Katakanlah setiap 36m2 area ada 9 pohon (atau 4m2 untuk satu pohon), berarti dalam setahun kita telah menebang pohon di areal seluas 4.720ha. Bayangkan kalau satu pengusaha hutan yang menebang puluhan, ratusan, bahkan mungkin ribuan hektar tiap bulannya; berapa banyak pengusaha hutan kita dan berapa banyak hutan yang rusak? Tanya Dephut!

Kita bisa menghitung-hitung jumlah hasil kali dari hal-hal lain yang semula berasal dari angka satu. Kita akan kaget mendapati betapa luar biasa banyaknya itu.

Inti dari ini adalah bahwa kita semestinya tidak meremehkan hal-hal yang kelihatannya kecil dan dapat diabaikan. Karena sesungguhnya hal-hal kecil bersama-sama dapat membentuk sesuatu yang sangat besar yang mungkin tidak kita perhitungkan sebelumnya. Pepatah-pepatah kita banyak yang mengungkapkan hal itu, contohnya adalah “sedikit-sedikit, lama-lama menjadi bukit”. Atau ingatlah peringatan yang mengatakan, “orang seringkali tidak jatuh karena menabrak batu besar, tapi karena tergelincir oleh oleh kerikil kecil”.





ANEH

5 11 2007

Ditengah orang-orang yang gemar melakukan hal yang aneh, orang-orang yang berusaha untuk tidak ikut-ikutan aneh (seperti saya) malah dianggap aneh. Sungguh aneh!

Selengkapnya





Lebaran Telah Tiba

8 10 2007

Nggak terasa bulan Ramadhan telah memasuki hari-hari terakhir. Lusa Ramadhan akan berakhir dan masuk ke bulan berikutnya: bulan Syawal, yang hari pertamanya dikenal dengan istilah Lebaran.

Menyongsong lebaran ini, seperti tahun-tahun sebelumnya, kesibukan mulai terlihat di mana-mana. Orang-orang mulai membersihkan dan merapikan rumah, bahkan banyak yang mempercantiknya dengan cat baru atau malah menambahkan dekorasi-dekorasi tertentu. Pasar-pasar, swalayan, pusat-pusat perbelanjaan mulai dipadati orang-orang yang berbelanja pakaian baru atau kebutuhan-kebutuhan untuk hari lebaran. Makanan-makanan khas lebaran pun mulai banyak diserbu. Sebagian orang malah membuat sendiri panganan-panganan yang sengaja disiapkan untuk disajikan pada hari lebaran. Pokoknya semua dipersiapkan dengan meriah, seperti persiapan untuk mengadakan pesta besar. Pesta besar. Ya,…pesta besar.

Lebaran, memang adalah sebuah pesta besar. Sebuah pesta yang diperuntukkan untuk menyambut mereka-mereka yang telah sukses “menaklukkan” tantangan-tantangan besar selama Ramadhan. Bahkan dikatakan itulah perang terbesar dari segala perang: mengalahkan hawa nafsu.

Sebuah pesta yang bahkan dirayakan oleh mereka-mereka yang sebenarnya tidak sama sekali menjalankan apa yang diwajibkan ataupun disunahkan selama Ramadhan. Tidak peduli. Pokoknya ini pesta besar bagi semua. Semua kudu ikut meramaikan. Malahan, dibandingkan persiapan menyambut Ramadhan, pesta menyambut Lebaran jauh lebih dipersiapkan. Bahkan bagi banyak orang, ketika bulan Ramadhan tiba, yang terpikirkan oleh mereka adalah Lebarannya. “Sebentar lagi lebaran, kudu siap-siap nih!“.

Itulah realita yang ada di masyarakat kita. Baju baru, makanan yang banyak, pulang kampung, jalan-jalan…..yang tanpa itu rasanya Lebaran nggak lengkap. Itu sudah jadi tradisi. Selama itu tidak berlebih-lebihan, tidak memaksakan diri, dan yang paling penting tidak melupakan makna sebenarnya dari lebaran itu sendiri,…biar saja lah!

Selamat Lebaran. Selamat Iedul Fitri 1428H. Mohon maaf lahir bathin!





Nikmatnya menderita

4 10 2007

Ini bulan puasa, sudah memasuki minggu terakhir. Alhamdulillah….masih sanggup mengemban tugas istimewa ini (ini satu-satunya tugas yang penilaiannya langsung oleh Tuhan dan ganjarannya pun langsung diberikan oleh Tuhan).

Yang namanya orang puasa, pastilah merasakan lapar dan haus. Itu wajar! Lha wong nggak makan dan nggak minum satu harian kok. Tapi disitulah justeru nikmatnya berpuasa.
Bayangkan, ditengah hari yang terik saat matahari terasa lebih panas dari biasanya: perut mulai bergelinjang, tenggorokan makin tercekat…..kebayang kan nikmatnya es cendol … atau hidangan istimewa di rumah makan…..glegh…!!

Nggak, nggak usah ngebayangin. Di depan mata cing! Saat melintas di tengah keramaian, ada saja orang yang dengan nikmatnya menyantap hidangan istimewa, atau minuman yang terlihat lebih menyegarkan dari yang biasa kita minum. Huh….hah…..lengkap sudah penderitaan. Pada saat kondisi mulai melemah, pasti pertahanan diri pun ikut melemah. Godaan yang datang, baik dari dalam maupun dari luar diri kita seakan makin kuat menghantam.

Tergoda? Memang menggoda. Tapi tergoda? Hh…nanti dulu! Perlu lebih banyak dari sekedar itu untuk membuat aku tergoda. Hmm……

Seperti yang aku bilang tadi, ini adalah tugas istimewa. Karena ini adalah tugas istimewa, pastilah hanya akan diberikan kepada orang-orang yang istimewa pula. Dan memang, hanya orang-orang yang istimewalah yang akan mampu menyelesaikan tugas ini dengan baik dan tuntas. Jadi, betapapun menderitanya, jalani saja dengan tabah dan ikhlas. Malah kalau bisa nikmati saja semua itu. Itu belum seberapa. Bayangkanlah orang-orang di tempat lain, yang merasakan penderitaan yang lebih hebat dari itu. Begitu kira-kira aku menguatkan diri.

Pengalamanku mengajarkan, jika kita mampu mengatasi godaan-godaan di awal-awal kita puasa, kita bertahan untuk terus hingga finish, maka hari-hari berikutnya akan menjadi semakin ringan dan semakin ringan. Sebaliknya, jika kita turuti godaan nafsu kita, maka hari-hari berikutnya kita pun akan mudah pula tergoda. Catet!.. Lagian, es cendol itu akan terasa lebih nikmat jika kita minum saat berbuka puasa (maghrib) ketimbang di siang hari saat kita “mangkir” puasa.

Nanti, begitu azan maghrib berkumandang, kita akan berkata, “Alhamdulillah…..nikmat sekali penderitaan hari ini!”





Hello world!

29 09 2007

Welcome to my blog.  !

Ini adalah blog yang kusediakan untuk menyapa seluruh dunia, dengan sapaan-sapaan yang mungkin kadang terdengar hanyalah sekedar basa-basi.

Ya….mungkin….tapi, basi atau tidak, itu hanya masalah penerimaan saja.  Yang jelas, ini kuperuntukkan menyapa anda semua dengan salam persahabatan, persaudaraan.  Seperti ketika anda sedang lewat di depan rumah, lalu aku menyapa: “mo kemana mas, sini….mampir dulu!”

Bagi yang menganggap basa-basi, mungkin akan berlalu begitu saja.  Bagi yang lain, mungkin bisa kita bertukar cerita, berbagi pengalaman, …. apa saja!

Salam

Toenk tea